Pasar kripto kembali memasuki fase krusial di awal tahun 2026. Setelah mencatatkan sejarah baru dengan menembus angka $126.000 (All-Time High) pada Oktober 2025 lalu, Bitcoin (BTC) kini tengah mengalami fase konsolidasi dan koreksi yang cukup signifikan. Bagi para investor, memahami dinamika harga saat ini sangat penting untuk menentukan strategi akumulasi maupun exit plan.
Per tanggal 7 Februari 2026, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $70.000 hingga $77.000 (setara Rp 1,15 - 1,19 Miliar). Angka ini menunjukkan pemulihan tipis setelah pasar sempat dikejutkan oleh penurunan tajam ke level $61.000 pada 5 Februari kemarin, titik terendah Bitcoin dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Sentimen Pasar: Tekanan dari Kebijakan Global
Penurunan harga baru-baru ini dipicu oleh sentimen negatif dari makroekonomi AS. Pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk menjadikan Bitcoin sebagai cadangan devisa (kripto nasional), memicu aksi jual di pasar.
Selain itu, terjadi rotasi modal yang cukup besar. Banyak investor mulai memindahkan aset mereka dari Bitcoin kembali ke instrumen tradisional seperti emas, yang saat ini kembali dianggap sebagai safe haven utama di tengah ketidakpastian likuiditas global.
Prediksi Harga Bitcoin 2026: Dua Skenario Utama
Para analis membagi pandangan mereka menjadi dua skenario besar untuk sisa tahun 2026:
- Skenario Optimis (Bullish Rebound): Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis $70.000, potensi rebound menuju angka $100.000 sangat terbuka lebar. Siklus musiman, termasuk efek Tahun Baru Imlek 2026, biasanya memberikan dorongan likuiditas tambahan di pasar Asia.
- Skenario Pesimis (Koreksi Lanjutan): Lembaga riset seperti 10X Research memperingatkan adanya risiko "kapitulasi" jika tekanan jual dari pemegang ETF Bitcoin terus meningkat. Jika level support gagal bertahan, harga bisa terperosok ke area $50.000.
- Area Support Kuat ($61.000 - $63.500): Ini adalah titik pantulan terbaru. Jika harga kembali menguji area ini, ini bisa menjadi peluang beli jangka menengah yang solid (sekitar Rp 965 juta - Rp 1 Miliar).
- Level Konfirmasi ($70.000): Menjadikan level ini sebagai support baru adalah syarat mutlak bagi Bitcoin untuk kembali ke jalur bullish.
- Target Akumulasi Terbaik ($50.000 - $55.000): Area ini merupakan skenario terburuk namun memberikan risk-to-reward terbaik bagi investor jangka panjang.
- Divergensi Emas vs BTC: Saat ini korelasi Bitcoin dengan emas sedang melemah; Bitcoin lebih bergerak searah dengan saham teknologi yang berisiko tinggi.
- Kebijakan The Fed: Pergantian kepemimpinan pada Mei 2026 diprediksi akan membawa kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish).
- Titik Break-Even ETF: Banyak institusi memiliki harga rata-rata beli di kisaran $90.000. Jika harga tertahan lama di bawah angka tersebut, tekanan jual untuk membatasi kerugian bisa menjadi bola salju bagi pasar.